BREAKING NEWS

Daun Kelor: Dari Tanaman Pekarangan ke Peluang Ekonomi Selayar


 


SeputarSelayar.id |Selayar-Di banyak rumah di Kepulauan Selayar, daun kelor tumbuh tanpa pernah diminta. Ia hidup di pekarangan, di pinggir jalan, bahkan di lahan yang jarang tersentuh perhatian. Selama bertahun-tahun, kelor diperlakukan sekadar sebagai sayur pelengkap, kadang bahkan dianggap “tanaman biasa” tanpa nilai lebih. Padahal, di luar sana, dunia sedang berlomba menjadikannya komoditas bernilai tinggi.


Tren gaya hidup sehat global telah mengubah daun kelor dari tanaman lokal menjadi superfood internasional. Kandungan nutrisi, antioksidan, dan manfaat kesehatannya membuat kelor masuk dalam radar industri pangan fungsional, herbal, hingga kosmetik. Ironisnya, daerah seperti Selayar yang secara ekologis sangat cocok untuk kelor justru masih berada di posisi penonton.


Masalah utama bukan pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan pada cara pandang dan tata kelola. Selama kelor hanya dilihat sebagai konsumsi rumah tangga, maka nilai ekonominya akan berhenti di dapur. Tidak ada rantai nilai, tidak ada industrialisasi berbasis rakyat, dan tidak ada dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.


Padahal, jika dikelola serius, daun kelor bisa menjadi motor ekonomi baru berbasis UMKM dan desa. Produk turunan seperti teh kelor, bubuk kelor, kapsul herbal, hingga bahan baku kosmetik alami memiliki pasar yang jelas dan terus berkembang. Nilai jualnya pun berlipat dibanding menjual daun segar.


Sayangnya, peluang ini sering kandas karena tiga hal klasik:

pertama, minimnya pendampingan dan transfer pengetahuan kepada petani dan pelaku UMKM;

kedua, tidak adanya standar kualitas dan hilirisasi produk;

ketiga, ketiadaan keberpihakan kebijakan daerah yang menjadikan kelor sebagai komoditas strategis.


Jika pemerintah daerah hanya berhenti pada jargon “potensi lokal”, maka kelor akan tetap menjadi cerita lama yang diulang setiap tahun tanpa perubahan nyata. Yang dibutuhkan bukan sekadar pelatihan seremonial, tetapi ekosistem bisnis yang dimulai dari budidaya terstandar, pengolahan higienis, sertifikasi produk, hingga akses pasar.


Lebih jauh, pengembangan bisnis kelor seharusnya ditempatkan dalam kerangka ekonomi berkelanjutan. Kelor mudah tumbuh, ramah lingkungan, dan dapat dikelola oleh rumah tangga desa tanpa modal besar. Artinya, komoditas ini sangat relevan untuk mengurangi ketergantungan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian pangan dan kesehatan masyarakat.


Selayar punya dua pilihan seperti terus membiarkan kelor tumbuh liar sebagai simbol potensi yang terabaikan, atau mengubahnya menjadi identitas ekonomi lokal yang memberi nilai tambah nyata bagi warganya.


Di tengah keterbatasan sektor industri dan lapangan kerja formal, mengabaikan peluang daun kelor bukan sekadar kelalaian, tetapi pemborosan masa depan.

Posting Komentar