ASDP Punya Empat Armada, Penyeberangan Bira-Pamatata Hanya Dilayani Satu Kapal, Kendaraan Menumpuk
Seputarselayar.id |Kepulauan Selayar— Pelayanan penyeberangan lintasan Bira-Pamatata kembali dipertanyakan. Di tengah tingginya mobilitas masyarakat dan kendaraan yang melintas di Selat Selayar, jalur strategis penghubung Kabupaten Kepulauan Selayar dan Kabupaten Bulukumba itu justru hanya dilayani satu kapal feri.
Kondisi tersebut semakin menjadi sorotan setelah hari ini terjadi penumpukan kendaraan di kawasan pelabuhan. Berdasarkan pantauan jurnalis TV yang berada di lokasi, antrean kendaraan terlihat menumpuk akibat terbatasnya kapal yang beroperasi melayani penyeberangan.
Situasi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar. PT ASDP Indonesia Ferry diketahui memiliki empat armada yang melayani lintasan Bira-Pamatata. Namun, mengapa pada saat kebutuhan layanan tinggi, masyarakat justru hanya mendapatkan pelayanan dari satu kapal?
Ketimpangan antara jumlah armada yang tersedia dengan kapal yang beroperasi dinilai perlu mendapat penjelasan dari pihak ASDP. Sebab, ketika hanya satu kapal yang beroperasi, kapasitas angkut menjadi terbatas dan waktu tunggu kendaraan maupun penumpang otomatis semakin panjang.
Dampaknya pun mulai terlihat. Penumpukan kendaraan tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jasa, tetapi juga berpotensi menghambat kelancaran distribusi barang dan mobilitas masyarakat yang menjadikan jalur Bira-Pamatata sebagai akses utama keluar-masuk Kepulauan Selayar.
Forum Peduli Selayar (FPS) turut menyoroti kondisi tersebut. Ketua FPS, Andi Nurhamzah, mendesak ASDP segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan pelayanan penyeberangan yang terjadi.
Menurut FPS, penyeberangan Bira-Pamatata merupakan jalur vital bagi masyarakat Kepulauan Selayar. Jalur ini tidak hanya digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi juga kendaraan dan berbagai kebutuhan logistik yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, persoalan keterbatasan armada tidak semestinya dibiarkan berlarut-larut. Apalagi, ASDP disebut memiliki empat armada yang diperuntukkan melayani lintasan tersebut.
Masyarakat tentu berhak mendapatkan penjelasan: apakah tiga armada lainnya sedang dalam perawatan, mengalami kerusakan, atau memiliki kendala operasional lainnya?
Pertanyaan ini penting dijawab secara terbuka agar masyarakat mengetahui penyebab sebenarnya mengapa hanya satu kapal yang beroperasi di tengah tingginya kebutuhan penyeberangan.
Penumpukan kendaraan yang terjadi hari ini seharusnya menjadi alarm bagi ASDP dan pihak terkait. Jika kondisi ini terus berlangsung, antrean kendaraan dikhawatirkan semakin panjang dan berdampak lebih luas terhadap aktivitas masyarakat serta perekonomian Kepulauan Selayar.
ASDP diminta tidak sekadar memastikan kapal beroperasi, tetapi juga menjamin kapasitas pelayanan yang sebanding dengan kebutuhan pengguna jasa. Empat armada yang tersedia semestinya dapat dioptimalkan untuk memastikan arus penyeberangan Bira-Pamatata berjalan lancar.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata dan penjelasan dari ASDP. Sebab, bagi warga Kepulauan Selayar, penyeberangan Bira-Pamatata bukan sekadar layanan transportasi, melainkan urat nadi mobilitas dan perekonomian daerah.



.jpg)
