BREAKING NEWS

Diduga Kejar Untung,Porsi Makanan Bergizi Gratis Di Bawah Nilai Rp10 Ribu Per Anak


 ‎

SS.id |Kepulauan Selayar— Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan publik. Dugaan praktik kejar untung mencuat setelah ditemukan menu MBG yang dinilai tidak sebanding dengan nilai anggaran Rp10.000 per anak yang di tetapkan BGN.

‎Kejadian ini berlangsung pada Oktober 2025 lalu, dan sempat menghebohkan jagat media sosial setelah sejumlah warganet membagikan foto menu MBG yang dianggap tak layak untuk program bergizi.

‎Dari pantauan di lapangan, menu yang disajikan kepada siswa penerima MBG hanya berisi kacang, mie, potongan kecil ayam, pisang, sedikit sup, dan nasi putih. Porsinya tampak minim dan jauh dari standar gizi yang seharusnya diterima siswa.

‎Menurut salah satu sumber terpercaya, dengan penampakan menu seperti itu, nilai per porsi makanan diperkirakan tidak lebih dari Rp6.000.

‎“Kalau dilihat dari isi menunya, itu paling hanya setara enam ribu rupiah. Sulit dipercaya bisa sampai sepuluh ribu,” ujar sumber yang enggan disebut namanya.

‎Ironisnya, kondisi ini terjadi di wilayah kepulauan yang dikenal sebagai lumbung ikan, dengan hasil laut yang melimpah. Potensi lokal itu semestinya menjadi keunggulan dalam penyediaan menu bergizi bukan justru sajian seadanya yang terkesan asal jadi.

‎Informasi yang dihimpun menyebutkan, penyedia makanan MBG tersebut berasal dari SPPG Pasimasunggu Timur, yang dikelola oleh Samudin, seorang guru sekaligus operator sekolah di Kecamatan Pasimasunggu. Syamsuddin juga diketahui menjadi pemodal dua SPPG di dua kecamatan, yakni Pasimasunggu dan Pasimasunggu Timur.

‎Menanggapi hal ini, Bupati LIRA Kepulauan Selayar melalui Humas-nya menyoroti lemahnya pengawasan pelaksanaan program.

‎“Program MBG seharusnya membawa manfaat langsung bagi anak-anak sekolah, bukan dijadikan ajang mencari keuntungan. Kami mendorong pihak berwenang turun memeriksa kualitas dan pengelolaan anggaran di lapangan,” tegasnya.

‎Sejumlah kalangan pun mulai mempertanyakan transparansi dan mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan program yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah.

‎Di tengah laut yang melimpah ikan, anak sekolah justru disuguhi menu bergizi yang kering rasa dan tipis gizi. Ironi di negeri lumbung ikan ini seolah menunjukkan: yang melimpah belum tentu terbagi adil.

Posting Komentar